Skip to content

pelatihan komik kkpk di BIP, 11-14 September 2012

September 12, 2012

awas: panjang.

pengennya dijadiin bahan komik curcol tapi sementara rawnya berupa teks dulu lah ya

beberapa hari ini ngurusin pelatihan komik kkpk. pesertanya anak2 sd, range kelas 1 s/d 6. capek? jelas. biasanya pas pulang saya terkantuk2 atau tidur ayam… di kereta. trus ungkapan “pengajar belajar dari anak2 didiknya” ternyata ngga sekedar kata mutiara. saya menemukan hal2 yg saya rasa ngga akan saya temukan dgn gampang di textbook—kalau saya ga ketemu mereka.

ini harusnya jadi pengalaman ketiga saya. tapi tetap saja ngga terbiasa rasanya… karena peserta pelatihan kali ini agak beda. jadi, penyelenggaranya itu… hmmm… sarana perpustakaan bip, yang nyempil sendirian di sudut lantai 2. pokoknya terkucil lah. mungkin selain “menumbuhkan minat baca pada anak” « misi terselenggaranya acara ini; visi lain yang diemban pihak penyelenggara bip ya untuk mempopulerkan perpus itu, biar tempatnya ga terlalu miris juga =w=”

bukannya cuma wc dan musholla yg disimpen di sudut2? #eh

pas hari pertama: ada 16 anak, 15 diantaranya dari Madrasah Ibtidaiyah Dago Pojok *kalo ga salah*; satu sisanya yang bayar. dari penampilan juga keliatan kok, mana yang bayar dan mana yang anak2 titipan. kulit mereka overall semua terbakar matahari, dan mungil-mungil sekali, sulit dipercaya kalau mereka kelas 3 dan 6 sd. mereka bilang mereka kesulitan ngegambar orang. pernyataan yang agak mengejutkan; saya kira semua orang biasanya memulai menggambar dari ikon orang, karena manusia punya tendensi narsis. “tapi kami bisa gambar rumah, sawah, gunung… mesjid…” mengingat mereka datang dari madrasah ibtidaiah, bisa dipahami sih. inget ada hadits yang melarang menggambar benda2 bernyawa. tapi…kayaknya diartiin terlalu harfiah deh, seinget saya, pas kuliah agama di tingkat 1, dosennya mewanti2: “harap bedakan mana yang sunah rasul, mana yang budaya setempat.” trus, “ngegambar apapun boleh asal konteksnya bukan untuk menduakan tuhan”.

perolehan cerita pas hari pertama kurang bagus, imajinasi mereka sangat kering. kok saya curiga gara2 mereka didoktrin sama sekolah ybs, kalau bukan karena kurang gizi. mereka masih segan mengeksplor kemungkinan2 yg bisa terjadi di universe mereka. minta uang ke bintang, kenapa tidak si bintang diketapel jatuh, mungkin saja pecahannya berhamburan ke bumi dan semua orang mendadak kaya. menangkap bebek di sawah, bukannya tidak mungkin petani yang menangkapnya membawa bebek2 tersebut ke rumah penjagalan dan menjadikannya hidangan bebek goreng…

kalau kata mas rony *juragan cab/kkpk versi komik*, keringnya imajinasi anak2 ini, juga bisa dijadikan parameter seberapa deras akses bacaan masuk ke cakrawala anak2 ini—juga menjadi bukti nyata betapa pendidikan untuk anak2 yg orang tuanya berada dgn anak2 dari keluarga gak mampu, bedanya njomplang sekali. miris rasanya, ketika saya mengantar anak2 di meja saya ke toilet, saya harus menjelaskan bagaimana menggunakan toilet duduk dan cara mengguyurnya. saya nyaris marah ketika salah satu ibu2 yg menjaga nyeletuk, “maklum dari keluarga miskin,”

tapi siapa sih saya, bisa menyela begitu. alih2, saya hanya tersenyum. kemudian mereka dengan polosnya bertanya, “disini (bip) ngga ada jajanan yang harganya 5000 ya kak?” lagi2 saya tersenyum; berpikir, 5000 itu hasil penghasilan yang di sisihkan susah payah oleh orang tua si anak, bisa jadi nominal terbesar yang sanggup dipasrahkan orang tua pada anak mereka… *mungkin. ini cuma dramatisasi saya saja, tapi ada kemungkinan memang begitu faktanya*

KARENA sewaktu senin malam pulang dari bip pasca briefing, saya berpapasan dengan tetangga saya di belakang rumah, yang berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah. di sebelah alfamart ada penjual nasi goreng, saya bertanya berapa range harga nasi goreng itu. tetangga saya menjawab, “mahal neng, 8000.”

Ya Tuhan. padahal bukan sekali dua kali kita membayar 20k untuk nasi goreng foodcourt dan menganggap itu harga yang ‘wajar’, bukan…

saya memang harus belajar banyak. satu hal yang saya ngga tau bagaimana mengatasinya adalah: bagaimana caranya supaya mereka tidak bosan dan rela tidak berkeliaran. mereka berlari-lari di koridor dan bermain kucing-kucingan, membuat kami agak khawatir, takut mengganggu pengunjung mal yang lain atau kehilangan mereka. pada hari kedua, galang membuat permainan menjebak stickman hanya bermodal kertas dan pensil grafit; ide brilian karena menarik naluri kompetisi antar anak2 laki2. nah saya? saya harus mencari cara saya sendiri…

di hari kedua, tidak seberat hari pertama. tapi saya dapet anak kecil, cowok, kelas 1 sd… yg overly attached dengan anak2 cowok lain yang lebih besar. belakangan saya baru tahu kalau dia nggak bisa anteng/tenang karena ANAK ITU BELUM LANCAR BACA TULIS. duh Tuhan :’)

tapi setidaknya dia kenal huruf2, dan sanggup meniru abjad2 yang ditunjukkan kepadanya. saya harus pelan2 mengeja apa yang ingin ia ceritakan dan menemaninya menulis diatas kertas. sumpah ya. guru tk, baby sitter, dan ibu2 yg punya balita itu, ternyata kesabarannya betulan sedalam samudra =w=

ada dua anak yg bayar pelatihan kkpk di kelompok saya dan saya nggak ngeh! padahal sudah diwanti2 untuk ngasih mereka perhatian intensif karena cerita mereka bakal jadi buku. sebagai tukang gambarnya, sudah terbukti stres ketika kita dapat cerita yang gak jelas juntrungannya. NAH. pelatihan kkpk ini juga untuk membentuk paradigma storyteller juga: gimana caranya bikin cerita yg idenya oke, keren, mantap luar dalem, tapi tetap gampang diterjemahkan oleh pembaca dan ilustrator? nah lo. =w=

soal cerita, saya beruntung karena salah satu anak kelompok saya ternyata ada yang sanggup membuat cerita dengan standar kkpk. anak lain, Nadine, ngasih saya GAMBAR :’D

*tapi saya lupa bawa gara2 kebelet pulang. ntar saya post deh, di tumblr. rasanya kayak dapet medali lo.*

Galang dapet jackpot, anak cowok yg bikin cerita “bl-alert”. dia galau pas udah sampai panel terakhir (panel ke 6), anak didiknya nanya, “mas cara bikin 2 orang tidur bareng gimana ya,” sementara protagonis yang dibuat anak tsb adalah 2 orang laki2 soleh… yang kemana2 berdua: solat bedua, makan berdua… tidur pun sama2. :3

*insert trollface here*

kamis, hari ke 3, adalah giliran saya presentasi materi di depan anak2. saya rasa pas presentasi gak kenapa2, tapi gak disangka gak diduga kami dapet anak2 dari mordor pada hari ini. dua diantaranya masuk kelompok saya, melina dan tuti. sepertinya cuma anak titipan—mereka tampak gak niat ikut pelatihan. ceritanya ngasal, ada yg insist pengen jiplak dari komik yg udah terbit, malu2 cuma di awal meliar di akhir, dan ga kalah epik, pergi karaoke gak bilang2 pas jam istirahat. ya kayaknya saya juga sih yang salah karena ngga mengawasi mereka terus-terusan… tapi temen saya membela, lantas apa gunanya panitia dari pihak bipnya? masa kerjanya cuma mendata anak dan ngasih nasi kotak doang? kenapa kami diharapkan bertanggung jawab penuh thd anak2 yg kabur2an sementara kami cuma pihak yg ngasih materi? pokoknya gara2 mereka menghilang gak bilang2, asti sampai harus turun naik dari lantai 2 turun 3 lantai ke dasar lantas naik lagi ke atas, emmeriksa setiap toilet tapi gak nemu apa2, galang lari2 dan balik dg tangan kosong…

anak2 mordor itu akhirrnya balik sih, trus saya setengah marah *tapi masih senyum ah* menasehati mereka. eeehh„, pada kabur ke meja galang. grrraaahhhh..

kata galang, “topeng saya lepas”.

untungnya hari ke empat kami ketemu anak2 normal =A=”

ada lolita eyecandy, namanya dita. adiknya nisa juga ga kalah imut. dan gacoan saya yg bikin cerita bertwist oke: aulia. hari terakhir juga hari pembagian honor. senangnya. :’D

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: