Skip to content

F: Perantauan

January 29, 2013

yremembrance:

@cuaparampam

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Bijih besi bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.” 

– Imam Syafi’i

***

Menurut saya mah, bukan perantauan yang membuat seseorang menjadi berilmu dan beradab… Tapi bagaimana dia mengamalkan ilmu dan adab yang telah dia peroleh, dimanapun dia berada. 

Banyak orang yang merantau, tidak pernah kembali. Lenyap ditelan perusahaan multi nasional, lenyap dihisap modernisme. Nama mereka perlahan tidak lagi penting; yang penting adalah gelar sebelum dan sesudah nama mereka. Well, untuk orang-orang seperti itu, saya akan bilang, seberapa tinggi pun ilmu yang anda peroleh di perantauan, selama ilmu itu belum dirasa manfaatnya oleh saudara dan tetangga anda, maka perantauan anda telah gagal. 

Banyak orang yang merantau, hanya kembali dengan foto dan suvenir, tidak lebih, kecuali berlebihnya kebanggaan karena telah pergi ke tempat-tempat tersebut. Bagi orang seperti ini, saya tidak akan menambah banyak kata selain sia-sia.

Saya bisa menceritakan banyak cerita perantauan yang, menurut saya, gagal.
Malin Kundang mungkin contoh ekstrim nya, hehe…

***

Saya tidak berkata, perantauan itu tidak berguna sama sekali. Justru sebaliknya, saya sangat setuju bahwa perantauan memberi kita banyak ilmu berharga. Saya hanya ingin menekankan, bahwa bagaimana kita mengamalkan ilmu tersebut, itu yang lebih utama. 

Saya adalah tipe orang yang tidak terlalu tertarik bepergian ke luar negeri. Satu-satunya tempat di luar negeri yang ingin saya kunjungi adalah Masjidil Haram di Makkah, itupun karena saya ingin menunaikan kewajiban saya, bukan karena memang ingin hidup di sana. Mengapa begitu? Jawabannya, karena Indonesia. Saya akan tertarik pergi ke luar negeri jika saya telah khatam Indonesia. 

Apakah itu salah? Saya katakan, tidak. Koreksi jika saya salah; mempelajari ilmu baru itu hukumnya fardhu kifayah kan? 

Saya akan sangat senang dengan banyaknya kawan-kawan yang pergi menimba ilmu ke luar negeri, merajut tali silaturahmi, memperkaya pengalaman; itu pasti bisa sangat berguna… 

Nah, biarlah saya menimba ilmu di sini, merajut tali silaturahmi dengan pribumi, memperkaya pemahaman akan diri sendiri; saya yakin itu juga bisa sangat berguna. 

***

Yang wajib itu menimba ilmu dan mengamalkan ilmu; perantauan hanya salah satu jalan, jalan yang sangat baik.

Malah, jika dipikir-pikir, kita memang senantiasa hidup dalam perantauan, kan? Itu yang jarang kita sadari. Bahwa yang penting bukanlah kemana kita akan pergi di muka bumi ini, tapi bagaimana kita akan kembali ke perut bumi ini.

***

hapunten pisan bilih seueur lepatna, mung opini hungkul ieu mah, hehe…
Wallahu’Alam…

*feel free to criticize… 🙂

***

here’s some addition :

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. “

(Q. S. At-Taubah : 122)

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. “

(Q.S. Al-Israa : 84)

Suku Quraisy juga terkenal karena sering bepergian di musim dingin dan musim panas (bisa baca surat Quraisy), tapi selama mereka tidak beriman,… yaudasih…

dan yang terakhir, saya ingat dulu pernah nulis ini, mungkin sedikit relevan, heuheu… Link

“Whither then will you go?”

(Q.S. At-Takwir : 26)

hatur nuhun tos di aos… 🙂

sebenernya saya lagi search tag #merantau trus nemu postingan ini trus saya reblog.

curcol OOT dikit : saya punya temen yg beken sekali dengan jargonnya, “XGRA AXY!!” , yang suka nyuruh orang jalan-jalan/berpetualang. mungkin maksudnya “jangan kuuleun diem terus di comfort zone”, tapi dia ngomongnya seakan-akan orang yang mager itu sampah dunia pelaku dosa tak terampuni. =”=

jalan-jalan kan butuh duit. dan “menunggu saat yang tepat” juga salah satu bentuk jihad. cmiiw.

F: Perantauan

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: