Skip to content

Nalar Kebudayaan : Aat Soeratin

April 19, 2013

image

“Ekosistem, Kebudayaan, dan Peradaban”

diskusi 19 April 2013, Galeri Soemardja ITB.

dikutip dari akun twitter @YAP_Institute dan @LarasaTita

 

(Republik) Indonesia adalah kumpulan atau himpunan wilayah administratif yang terdiri atas propinsi sampai tingkat paling rendah. Hal ini berbeda dengan Nusantara yang merupakan himpunan wilayah budaya.

Kebudayaan adalah konfigurasi nilai-nilai budaya, sebagai berikut: ilmu, ekonomi, kepercayaan, seni/estetika, solidaritas, kekuasaan.

Kebudayaan adalah persoalan setiap individu, bukan “budayawan” karena setiap aktivitas individu akan membangun kebudayaan yang utuh. Kerja budaya = menyusuri sejarah peradaban dgn arah praksis dan filosofis.

Ekosistem adalah pola hubungan timbal balik antarmanusia dengan lingkungannya. Manusia berubah, lingkungan hidup (ekosistem) berubah, maka kebudayaan senantiasa berubah.

Perlu terjadi pola hubungan yang setimbang antara manusia dan lingkungan, setara antara subjek dengan subjek. Bukan hubungan eksploratif seperti yang terjadi sekarang, manusia sebagai subjek dan lingkungan sebagai objek.

Pola hubungan yang eksploratif (pemerasan) akan mengguncang kesetimbangan ekosistem. Ekosistem yang terguncang kesetimbangannya, dalam bahasa manusia disebut BENCANA. Tugas kita adalah menjaga kesetimbangan ekosoistem karena jika lingkungan terguncang, alam akan mencari kesetimbangan baru. Proses mencari kesetimbangan baru oleh alam ini kita kenal dengan bencana.

Seruan yg pantas adalah “jagalah kesetimbangan ekosistem” bukan “Jagalah kelestarian ekosistem” karena lingkungan memiliki siklus, tidak abadi.

Kita sering anggap “bodoh” praktek2 manusia (terutama masyarakat adat) yg sedang menjaga kesetimbangan lingkungannya.

Sekarang dunia rusak karena manusia menganggap dirinya subjek atas alam bahkan atas manusia yang lain.

Kebudayaan kemudian melahirkan peradaban. Manusia secara kolektif dalam puak, kaum bangsa, melakukan perjalanan budaya. Semakin jauh dan panjang perjalanan budaya semakin sarat tantangan.

Titik Koordinat Awal dlm perjalanan budaya adalah Identitas. Kita sekarang? Tujuan belum jelas, tapi mau pulang tidak tahu ke mana.

Perjalanan budaya hanya bisa dilakukan jika mempunyai “Titik Keberangkatan” dan “Titik Tujuan”. Kita kadang terlalu sibuk mencari tujuan, tanpa memiliki titik keberangkatan. Kita mesti menentukan titik keberangkatan dan titik tujuan kita. Hal ini untuk memandu kita tetap pada jalur tujuan yang benar sesuai dengan rencana/strategi. Jangan seperti layangan putus tanpa arah. Kita mesti memegang teguh titik keberangkatan dan tujuan ini supaya tidak terjadi deviasi. Andaikata kita tidak sampai tujuan, kita dapat pulang dengan cara menyusur pulang arah perjalanan (arah balik orientasi).

Kita mesti merumuskan kembali identitas keindonesiaan, kesukuan, kedirian supaya kita mengetahui titk keberangkatan kita.

Dulu Jepang, Cina, India menutup diri karena sedang merumuskan identitas mereka, skarang mereka menampilkan identitas ke dunia.

Ada anggapan bahwa dlm pergaulan global, bangsa Indonesia tidak memberikan sumbangan maslahat pada peradaban dunia.

Kontribusi bangsa kita ke peradaban dunia apa? Teu aya pisan anu sae (sunda: tidak ada sama sekali yang bagus).

image

Kita tidak pernah dengan sungguh-sungguh mengkaji apa yang ada di dalam ekosistem kita yang khas. Ini dikatakan sebagai “elmu teu nyambung jeung kahirupan” karena apa yang ada di pikiran berbeda dgn kehidupan yg dijalani.

Jika kita mengkaji apa yang ada di ekosistem kita dengan baik, kita akan menyumbang besar pada peradaban dunia. Lihat keris, ada keris yg dibuat dgn enam jenis metal dan dengan tekstur sidik jari. ini slh satu contoh kehebatan moyang kita.

Mesti ada sebuah LONCATAN. kita harus percaya diri, sadar potensi, dan mau melompat « Disini dibutuhkan PEMIMPIN, bukan PENGUASA.

Rumah Indonesia adalah kesatuan wilayah administratif yang ditentukan oleh manusia.

Rumah Nusantara adalah himpunan wilayah budaya yang digubah Tuhan Yang Maha Indah sebagai puzzle yang asri.

Menghayati Bhineka Tunggal Ika: memahami ekosistem berarti memahami kebudayaan.

Identitas tidak bersifat genetis, tetapi ekologis.

Seorang Batak jika lahir, tumbuh, bergaul di lingkungan Sunda, dia bisa menjadi seorang sunda. Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung.

Kerja Budaya adalah kerja kepemimpinan. Kerja budaya adalah kefasihan berkoordinasi dengan prinsip kerja orkestra. Dalam laku budaya, harmoni hanya bisa dibangun/dicapai melalui kerja budaya.

Seorang pemimpin mesti taat partitur (kesepakatan) karena instrumen yg dimainkan sangat beragam. Seorang pemimpin juga harus sadar harmoni, sadar peran dan kapasitas, tidak harus tampil secara terus-menerus. Kerja seorang pemimpin adalah dirigen yang menjaga harmoni dan taat partitur, bukan pemain yg memainkan segala alat musik.

Para Ilmuwan di Barat mencari potensi dari diri kita, sementara kita mengabaikan potensi besar yang kita miliki.

Tugas kita adalah bekerja sebaik-baiknya dalam kapasitas kompetensi yg kita miliki, inilah kerja budaya yg sesungguhnya.

Harus ada revolusi pemikiran dan menularkan pola pikir berbalik tentang keadaan bangsa kita sekarang.

Kampung adalah akar negara, matinya kampung akan menghadirkan busuknya negara. Kita harus membangkitkan akar-akar (kampung, komunitas) untuk berpikir dan menghimpun gerakan membangkitkan potensi yg kita miliki.

From → Uncategorized

One Comment
  1. cikal permalink

    lalu bagai mana dengan budaya2 barat yang telah masuk ke komunitas (kampung) yang sudah tumbuh dan hidup bagaikan komunitasnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: