Skip to content

Bikinnya 15 Menit

October 14, 2013

kinghatter:

Setiap kali membuka loker sepatu, ia pasti mendapati beberapa surat di sana. Sekurang-kurangnya tiga, dan paling banyak—konon katanya—sembilan belas. Kebanyakan dari anonim, dan ia akan selalu membacanya dengan senyum riang. Biasanya aku tidak memperhatikan `ritual`nya itu, tapi hari ini kami terjebak bersama-sama di teras sekolah, memandangi hujan deras, memangku tas, hanya saja dia punya beberapa bacaan di tangannya sedangkan aku tidak.

Ini membuatku terpaksa memperhatikannya; berdiri menyandar ke tembok, mengulum permen karet sembari membacai surat dari para penggemarnya selembar demi selembat. Agaknya, hari ini mendapat lima. Aku menyadari betapa tampan wajahnya, ramping jemarinya, tapi pesonanya yang paling utama, kupikir, adalah sepasang matanya yang nampak jernih dan cerdas. Idola sekolah, pemain bass, pemegang peringkat lima besar, baik, ramah…

Tahu-tahu, pemuda populer yang terjebak bersamaku itu mengumpulkan surat-surat yang ia dapat, dan meremasnya. Ia berdiri untuk mencari-cari tong sampah, lalu membuang semua surat itu ke dalamnya. Aku pun terhenyak, terlalu terkejut oleh apa yang baru saja kusaksikan. 

“Kau… membuang surat-surat itu?” tanyaku hampa.

Ia menatapku (seolah baru sadar aku ini ada), dan menaikkan bahu. “Yeah. Kenapa?”

Aku terdiam. Ia nampak bingung. Kebanyakan brengsek populer pasti nampak bangga membuang surat-surat dari pemuja mereka, tapi yang nampak pada wajah pemuda manis ini hanya itu: bingung. Datar seolah mencari kesalahan logika dari perbuatannya. 

Ia pasti membaca raut tak setuju di wajahku, jadi ia meneruskan, “Terus harusnya bagaimana, dong? Disimpan? Terlalu banyak kalau begitu, kan…”

“Tapi kau benar-benar membaca surat-surat itu, kan?”

“Iya, seperti yang kau lihat, tadi. Eh, iya, kau tadi lihat kan?”

Aku meneguh ludah. “Kau ingat isi tiap-tiap surat itu?”

Si pemuda menelengkan kepala, seolah menimbang-nimbang. “Kayaknya. Kenapa, sih?”

Aku tak menjawab. Lalu, suara hujan pun berhenti. Perlahan, cahaya matahari tipis menerpa kami. Ia menyeringai padaku dan mengangkat tangannya sebagai tanda ‘pulang duluan’. Dan hal berikut yang kudengar adalah suara langkah kakinya saat berlari, suara orang-orang yang menyapanya di perjalanan, kecipak tanah becek yang ia injak.

Sementara aku, di sini, bangkit dari dudukku dan melongok ke dalam tempat sampah tempat ia membuang surat-suratnya tadi. Tanpa susah-susah mencari, aku menemukan tulisan tanganku di antaranya, paling atas. Kurasakan dadaku ngilu, walau seharusnya sudah kuduga akan jadi begini.

Siapa dia, siapa aku.

image

a response to Dika’s fic. 

when i read her fic again i realize i perceive it wrong. i might redo it in my spare time >,<

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: