Skip to content

rotsy.toyrs.story.yorst.: Seat 9C-1B to 3C-3D (scenario 1)

October 20, 2013

kamukayakuya:

Nyaris! Nyaris!

Nyaris terlambat!

Aku berlari di sepanjang lorong stasiun, mencari gerbong kereta Parahyangan yang akan membawaku ke Jakarta 5 menit lagi. Aku berlari terengah-engah. dan akhirnya aku sampai ke gerbong 2, itulah gerbong dimana aku kana duduk.

Sambil mengelap keringat dan bersiul lega, aku menapakkan kakiku di gerbong itu. Mataku langsung mencari seat nomor 9C. Dan bingo, ini dia. Tepat TIDAK di samping jendela.

Ah ya Tuhan, inilah kan kalau terlambat membeli tiket. Tidak dapat seat favorit.

Akhirnya aku menaruh tasku di bagasi atas, kemudian merebahkan diri di kursi penumpangku. aku menoleh ke seat sampingku. seorang bapak-bapak yang sibuk dengan laptop-nya, businessman agaknya. Bukan seatmate yang menyenangkan, tapi juga tidak mengganggu. Mataku lalu menggerayangi sisi kereta lainnya. menuju ke arah pintu masuk. ada seorang laki-laki yang baru masuk dari sana. berlari, terburu-buru seperti apa yang kulakukan tadi.

Ia menyeka keringatnya, kemudian mencari-cari tempat duduknya yang ternyata berada di paling belakang—errr, sepertinya. dan saat itu, aku jadi bisa memperhatikan wajahnya yang… Eh?

Ya Tuhan, itu kan Argo, senior dua tahun lebih tua saat aku SMA!

Dan… oke, cinta pertamaku. Sayangnya, kami tidak saling kenal—sampai sekarang. tapi aku tidak mungkin lupa wajahnya yang khas itu!

Tatapan mata yang tajam dan rambut yang berantakan. Tuhan, Tuhan, kenapa aku jadi merasa sesak napas lagi ya, seperti lima tahun yang lalu.

Kembali ke kenyataan, ia sepertinya melihat seseorang di belakang—melambaikan tangannya, menandakan ia mestinya duduk di sana. mungkin temannya, entahlah, aku hanya melihat gerak-gerik Argo yang terlihat lega melihat seseorang di situ mengisyaratkan sesuatu padanya.

Dalam sekejap, sosoknya pun menghilang dari pandanganku.

Huff…

Aku memang belum pernah berkenalan dengannya, sejak pertama kali melihatnya di masa MOS. kenapa? Rasanya bodoh mengajak kenalan duluan, lagipula saat itu aku tidak tahu dia sudah punya pacar atau belum. pokoknya canggung—dan dasar bocah, bahkan seluruh motorikku beku saat melihatnya dari jarak puluhan meter! bagaimana ceritanya aku bisa berkenalan kalau begitu?

Tahun berikutnya, dia lulus, tentu saja. dan aku naik ke kelas dua SMA. yang kudengar dia di terima di jurusan Teknik Mesin di UTG. dan semenjak itu aku tidak pernah lagi mendengar tentangnya.

Kupikir ya sudahlah, apalagi sekarang kami beda kampus, mana mungkin bisa bertemu lagi.. sampai akhirnya, di sini.

Kereta kemudian mulai bergerak. aku masih memutar otak sambil mengatur napas, apakah aku akan mengajaknya berkenalan (nekat!) atau tidak. tapi… haduh, batas waktunya hanya tiga jam dari sekarang.

Dengan bodohnya, aku mencuri-curi pandang ke tempat duduknya, seat 1B. Dia ada di sana, sedang bercakap-cakap dengan teman di sampingnya.

…haduh. Aku pasti akan terlihat bodoh kalau menghampirinya untuk berkenalan—sekarang. Nanti saja deh, sebentar lagi. Atau (mungkin) tidak selamanya.

Satu jam berlalu. Kereta yang melaju pelan ini masih membuatku gelisah, apalagi sesekali suara tawanya terdengar renyah. agak ribut memang, tapi aku menikmati tawanya. dan sekarang, tawanya mereda. sepertinya mereka sudah tidak mengobrol seru lagi.

Dengan mengumpulkan segenap tenaga dan kekuatan bulan, aku bangkit dari duduk. rasanya lutut ini gemetaran, dibarengi dengan telapak tangan yang terasa dingin. ah tapi mau bagaimana lagi, nekat adalah nama tengahku!

Aku lalu mulai berjalan gontai di antara kuris-kursi kereta. melewati seat 8, 7, 6… dan di seat 3, aku mulai berhenti. aku ragu. dan. jantungku. berdegup. kencang.

Bukan, bukan karena gugup. tapi karena yang berada di sampingnya adalah seorang wanita cantik. dan kini mereka masih mengobrol dengan asyik, namun dengan suara pelan. begitu akrab.

Ya Tuhan, apa sih yang aku pikirkan. tentu saja ia punya pacar. mungkin itu pacarnya.

Rasanya perih sekali.

Sambil mengelus dada, aku kembali menuju ke kursiku. Ah yah, sudahlah. mungkin memang belum waktunya kami mengenal satu sama lain atau… memang tidak perlu saling mengenal lebih baik.

Pikiranku kacau saat duduk di kursi lagi. perjalanan 2 jam ke depan pasti akan menjadi sangat mentidakenakhatikan.

Lebih baik aku tidur. Mungkin kalau nanti pas turun kereta kami papasan, dan dia masih mengingatku, kami bisa berkenalan. kalau tidak, ya… sudahlah.

*

Beberapa menit sebelum kereta berhenti di stasiun Gambir, aku terbangun. tanpa sadar aku melihat ke arah sampingku… Bapak-bapak itu masih saja sibuk mengurusi laptopnya, kali ini sedang membereskan kabel chargernya dan bersiap untuk turun.

Sebelum turun, aku menyempatkan diri untuk melihat ke arah kursi Argo. ia masih di sana, siap-siap turun. dan sekitar 10 menit kemudian, kereta resmi berhenti. aku buru-buru turun dan menuju pintu belakang gerbong, untuk menunggu kemunculannya dari pintu yang lebih dekat dengan kursi Argo. Logikanya begitu kan, keluar dari pintu terdekat.

Banyak orang yang keluar dari sana tapi Argo tidak kunjung muncul. aku menengok ke sekeliling, ke arah pintu yang satu lagi. tidak ada juga di sana.

Semenit, dua menit.

Apa sih yang kupikirkan?

Ya mau bagaimana lagi? berarti kami memang tidak ditakdirkan untuk berkenalan… bahkan sampai sekarang.

Untuk terakhir kalinya hari itu, aku memandangi gerbong kereta itu, lalu melangkah menuju luar stasiun dengan hati yang mencelos. Oke, air mataku nyaris jatuh—saking kecewanya.

Terkadang memang kesempatan seringkali terlewat, bahkan setelah diberi waktu tiga jam oleh Tuhan.

***

Seminggu kemudian, tepat seminggu kemudian, aku pulang ke Bandung lagi dengan kereta berlabel sama. Argo Parahyangan. Argo. Ahhh, aku hanya tersenyum miris.

Sudahlah, anggap saja itu satu bagian manis dari nai kereta. Eh, atau pahit ya?

KAli ini aku tidak terlambat datang ke kereta. Lalu lintas lancar, bebas hujan. Otomatis aku menaiki gerbong kereta dengan santai. sedikit ngantuk malah, karena ini memang kereta terakhir. Jam 20.15.

Kali ini aku mendapatkan nomor tempat duduk… 3D. Nice. samping jendela, favoritku. Seat-mate-ku belum muncul. jadi aku bisa menata diri dulu di kursi. pemandangan di luar sudah gelap, tidak terlalu banyak yang bisa dinikmati, jadi aku mulai mengenakan earphone di telingaku untuk mendengarkan musik, apalagi di belakangku sepertinya ada suara orang sedang memperdebatkan masalah tempat duduk. apa-apaan sih, kan semua udah dapet nomornya.

“Eh, sorry. Boleh kan gue duduk di sini?”

seseorang mengagetkanku, “Eeh, iya—boleh.” aku menarik earphone-ku dan segera mengiyakan. baru saat itu aku menoleh ke arah sumber suara. dan, aku menganga.

“Hey, lo—Meia kan? SMA 31 dua tahu bawah gue? Masih inget gak, gue Argo.” Ia mengajakku salaman, seraya duduk di sampingku. 

“Ehh—i-iya, inget." aku menyambut salamannya sambil masih menganga. "kok—bisa…?”

“Bisa duduk di sini? iya, tadi gue minta tukeran sama bapak yang di seat 2. Agak lama nego sih, tapi kan akhirnya dapet juga seat ini.” ia tersenyum.

Lidahku kelu. saking gugupnya.

“Kenapa?”

“Ehh—gak apa-apa, cuma kaget aja. ketemu senior di sini. dan sebelahan pula.” aku menjawab (bohong).

“haha, kayanya dulu kita gak saling kenal kan? akhirnya kita bisa kenalan di sini.” ia menyenderkan dirinya di sandaran kursi. Aku mengangguk-angguk.

Dan tak lama kemudian kereta mulai bergerak membawa kami ke Bandung. obrolan demi obrolan pun mengalir, kami bagai sahabat lama yang dipertemukan kembali di kereta ini.

Ya.

Akhirnya kita bisa kenalan di sini. Dan ini seperti kebetulan yang disengaja.

Terima kasih, Tuhan. 🙂

train

i was surprised when i track back her story blog, i found that Gisha already published this original “Seat 9c"s script. it’s been two years when i started this project and still haven’t done altering this story into actual comic. Gisha, i am so, so sorry! it’s still on my to do list though. (;;A;;)

rotsy.toyrs.story.yorst.: Seat 9C-1B to 3C-3D (scenario 1)

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: