Skip to content
Tags

fiksi : masjid

July 12, 2014

adrianeline:

Kami selalu melewati masjid itu, berdiri megah di jalan utama yang menghubungkan rumah kami dan rumah nenek, yang kubah-kubahnya sudah bisa dikenali bahkan dari kejauhan. Kami kadang mampir, biasanya untuk minta air.

Kali ini jam setengah sepuluh malam, aku dan adikku berhenti lagi disana, di masjid yang sama, dalam perjalanan pulang dari peringatan 100 hari wafatnya nenek kami. Masjid setengah gelap, lampu-lampu di dalam dimatikan dan gerbang hanya setengah terbuka. Seorang lelaki renta tergopoh-gopoh melebarkan celah gerbang supaya aku bisa membawa masuk motorku ke pelataran.

Adikku, sambil menyingsingkan lengan kemejanya supaya tidak mengganggu wudhu, bertanya, “Kalau ini rumah Tuhan, kenapa tidak buka 24 jam?”

fiksi : masjid

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: