Skip to content

pseudo-sinetron Ramadhan

July 24, 2014

Ada anak muda, sebut saja namanya A, ia masih belia, usianya belum lewat 20 tahun. Alkisah pada suatu hari, A di tanya oleh bapaknya, “Gimana, uang kuliahnya udah dibayar?”. 

A, dengan senyum sumringah menjawab jujur, “Saya sumbangin ke masjid semua Pak.”.

Alangkah tercengangnya bapaknya A mendengar jawaban putra tertuanya tersebut. Namun kekagetan beliau tidak lama, dengan cepat beliau menanggapi, "Alhamdulillah, anakku baik banget.“ Kemudian lanjutnya, "Yah nanti uang kuliah pasti dapet lagi sebagai balasannya.. Rejeki pasti nggak kemana.”.

Melihat kelapangan sang kepala keluarga, ibu serta adik-adiknya A mengamini. “Aminnnn.”. 

“Memang anak Bapak ini membanggakan sekali.”.

Di lain waktu, keluarganya A ini kedatangan tamu, tetangga yang sebut saja namanya B. Dengan bahasa berbunga, B membujuk bapaknya A untuk menandatangani kontrak. B mengutarakan niatnya mau buka usaha, dan dia butuh tandatangan bapaknya A sebagai penjamin. B melampirkan kontrak yang dimaksud. Setelah mengucap basmallah, tanpa merasa perlu membaca isi kontrak lebih lanjut bapaknya A pun menandatangani surat perjanjian tersebut.

Namun tidak lama kemudian, B hilang tidak tentu rimbanya bersamaan dengan munculnya orang-orang dengan pakaian preman di kompleks perumahan mereka. Dengan ancaman berupa macam-macam margasatwa yang diserukan dengan lantang dari mulut-mulut mereka, orang-orang itu ikut menggedor pintu rumah A. Mereka memperlihatkan salinan surat perjanjian dan meminta pertanggungjawaban bapaknya A. Ibu dan adik-adiknya A hanya bisa gemetar di balik pintu sembil membatin, "Mengapa ini terjadi pada kami? Kuatkanlah kami…“.

Setelah memberikan tanggal tenggat pembayaran utang B, kelompok preman tersebut pulang setelah menggulingkan meja, merusak kursi, dan menendang bapaknya A.

Hari-hari setelahnya menjadi masa-masa yang berat bagi keluarga A. Demi membiayai utang keluarga, adik A yang perempuan terpaksa harus jual diri, sementara sang ibu (barangkali akibat stres) mendadak sakit-sakitan. Bapaknya A berinisiatif menjual ginjal namun sebelum dapat pembeli, Bapak dipanggil ke rahmatullah duluan akibat kecelakaan di tempat kerja. Adiknya A yang bungsu kabur dari rumah lantas ketahuan gabung bersama kelompok mafia yang sama yang memeras keluarga A.
Namun walaupun didera kemalangan semacam itu, A sekeluarga masih tetap ingat tuhan. Tetap berpikir bahwa semua kemalangan ini adalah suratan takdir. Sungguh patut diteladani, A tetap prasangka baik dan terus berdoa…

-tamat-

joint project with piyostoria and Mira.

*ditulis sambil nahan diri biar gak ninju monitor PC*

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: