Skip to content

Lima Cara Untuk Menghentikan Waktu

September 25, 2014

fahdpahdepie:

image

Cerpen FAHD PAHDEPIE

Aku pertama kali melihatmu di stasiun kereta Rawa Buntu dan tidak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Biasa saja, seperti kemeja putihmu yang agak kusut di bagian belakangnya, juga jins birumu yang tak terlalu istimewa. Kita sama-sama memakai kacamata, mungkin itu yang membuatku memerhatikanmu. Sejak SMP, aku selalu berimajinasi untuk suatu saat akan jatuh cinta pada perempuan berkacamata—dengan bingkai kotak yang berwarna hitam menumpuk di sepasang lengkung alis matanya: Waktu itu kamu memakainnya.

Kereta yang sedang sama-sama kita tunggu, pagi itu datang tepat waktu. Ribuan penumpang dari stasiun Parung Panjang, Cisauk, atau Serpong, telah berjejalan di setiap gerbongnya. Kita memasuki gerbong yang sama dengan susah payah: Selamat datang di moda transportasi kota yang setiap hari membuat penumpangnya tersiksa!

Seorang Bapak berusaha membuka kursi lipat yang sejak tadi ditentengnya, perempuan tua memasang wajah letih sambil berharap ada pemuda baik hati yang menawarkan tempat duduk untuknya, eksekutif-eksekutif muda—dengan wangi parfum bermacam-macam—bergelantungan dan berdesak-desakan sambil terus berusaha menjaga penampilan.

Aku berdiri beberapa langkah di depanmu, sesekali memerhatikanmu mengerutkan dahi, atau mendekap erat tas punggung yang kau sampirkan di dadamu, atau membetulkan rambutmu yang melebihi bahu, atau ketika kedua tanganmu berkali-kali menutup hidung dan mulutmu: Aku tahu bau apa yang mengganggumu. Aku kira kita sama-sama terganggu oleh bau parfum seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari tempatmu berdiri—dari tempatku berdiri. 

***

Kita sudah sampai di stasiun berikutnya ketika mata kita bertemu untuk sedetik kemudian segera saling berpaling. Aku pura-pura melihat atap gerbong kereta, kamu seolah-olah sedang melihat ke luar jendela. Beberapa orang turun di stasiun Jurang Mangu dan kamu dapat tempat duduk. Dari tempatku berdiri, aku melihat cahaya matahari mengemaskan rambut-rambut halusmu sementara tangan kirimu tengah berusaha mengambil sebuah buku dari ranselmu. Aku tahu buku itu, sebuah novel Ernest Hemingway: The Garden of Eden. 

Sejujurnya, waktu itu, aku sedikit jatuh cinta padamu. Kamu seperti datang dari dunia fiksi: Perempuan tipikal oriental berkacamata dengan kemeja putih dan jins belel, membaca buku sastra di dalam kereta yang penuh penumpang, sementara rambut panjangmu jadi keemasan disaput cahaya matahari pukul delapan: Semua yang membuatku tahu cara pertama untuk menghentikan waktu yang berdetak di hatiku.

***

Pada satu titik, aku tahu kamu juga beberapa kali memerhatikanku. Di stasiun Palmerah, saat petugas sedang meminta karcismu, aku pura-pura membetulkan earphone sambil kuperintahkan ujung mata kananku untuk mencari tahu beberapa detil lain tentangmu. Aku suka warna ranselmu, aku suka gelang biru yang melingkar di tangan kananmu, aku suka caramu menyampul buku, aku juga suka Hemingway: Hey, rupanya kamu tidak sedang benar-benar membacanya, kamu tak pernah beranjak dari halaman yang sama sejak pertama kali kamu membukanya.

Kadang-kadang aku melihat matamu dari balik buku—diam-diam menatap ke arahku. Beberapa kali kita saling bertukar pandangan untuk kemudian saling berpura-pura melihat ke kejauhan. Aku berpikir keras untuk menemukan sebuah kalimat atau sapaan yang bisa kukatakan padamu. Apa saja. Aku berharap kamu menjatuhkan sesuatu dan aku akan memberi tahumu, aku ingin pura-pura bertanya seharusnya aku turun di stasiun mana jika ingin ke arah Senen, aku terus berpikir haruskah aku mengatakannya: Aku suka caramu memasang tali sepatu…

Inikah cara kedua untuk menghentikan waktu: Mencari kata-kata pertama untuk mulai bicara padamu.

***

Aku turun di Stasiun Tanah Abang ketika beberapa detik kemudian kamu juga berdiri dari tempat dudukmu dan mulai berjalan tepat di belakangku. Mendengar suara langkah kakimu, atau mendengar kamu berdehem, atau ketika kamu mengatakan “maaf” atau “permisi” pada seseorang, tiba-tiba membuat detik waktuku berhenti berdetak. Barangkali inilah cara ketiga, saat dunia seolah menjadi berwarna hitam-putih atau sepia, tersebab suaramu, kedua telapak tanganku jadi berkeringat. 

Kita berjalan di sepanjang lorong stasiun yang ramai. Aku melambatkan langkah kakiku, berharap kamu jadi berjalan di sampingku atau menyalipku: Aku ingin sudut pandang lain dari episode pagi yang indah ini. Tapi rupanya langkahmu juga melambat, suara karet sepatumu berdecit di lantai stasiun yang lengket. Hingga seorang lelaki setengah baya berjalan terburu-buru dan menabrak bahu kananmu dari belakang. Kamu terdorong ke depan dan tanpa sengaja bikin lengan kita bersentuhan: Seketika aku mencium wangi lembut parfummu. Sejenak kemudian, kita saling mendaftarkan tatapan. Kamu bilang “maaf” sambil tersenyum. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tahu itu cara keempat untuk menghentikan waktu: Senyummu yang membuatku semakin jatuh cinta padamu…

Tidak apa-apa, aku benar-benar ingin mengatakannya. Tapi tak satupun kata yang benar-benar meluncur dari lisanku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Beberapa detik kemudian kamu kembali berjalan, meninggalkanku yang tersihir beku oleh hitam bola matamu. Aku sedang jatuh cinta, tentu saja. Ya, aku sedang jatuh cinta, meski bukan pada pandangan pertama. 

Di kejauhan, kepalamu menghilang di antara kerumunan. Mungkin kamu menaiki kereta lainnya atau belok di koridor depan. Aku berjalan lunglai menaiki tangga. Suara Thom York dari Radiohead berbisik dari kedua earphone-ku: You’re so special / I wish I was special / But I’m a creep / I’m a weirdo / What the hell am I doing here?

***

Seiring hukum waktu yang membuat kita semakin tua, hampir setiap hari kita menumpang kereta yang sama dari Rawa Buntu ke Tanah Abang, selama hampir tiga tahun. Tepatnya, 2 Tahun 11 bulan dan 8 hari. Ya, aku benar-benar menghitungnya: Kebiasaan yang membuatku mulai tahu semua kebiasaanmu. Aku mulai hapal semua bajumu. Aku senang menebak-nebak sepatu mana yang akan kau pakai berikutnya untuk kubuktikan keesokan harinya. Aku tahu kapan kamu bersedih, bahagia, bersemangat, malas, atau mengantuk. Aku suka memerhatikanmu saat kamu tertidur di kereta.

Dari stasiun Rawa Buntu, ke Ciater, ke Sudimara, kamu biasanya dapat tempat duduk di stasiun Jurang Mangu. Di stasiun Pondok Ranji kamu akan mengeluarkan sebuah buku dari ranselmu, minggu ini kamu sedang membaca Chekov, minggu lalu Dostoyevski, dua minggu lalu Tony Morisson dan Orhan Pamuk, sebelumnya Maxim Gorky. Aku selalu berpikir keras di Pondok Betung, mungkin aku akan menyapamu selepas stasiun Kebayoran atau tepat di stasiun Palmerah, sesuatu tentang “Pagi yang panas, ya?” atau “Aku juga suka Anton Chekov!” atau “Apakah Anda setuju dengan kenaikan harga tiket kereta commuter line? Tolong utarakan alasan Anda…” Sayangnya, semakin aku berpikir keras tentang semuanya, semakin sulit aku menemukan kata-kata yang tepat untuk memulainya. Maka, seperti biasa, aku akan tetap diam hingga tiba di stasiun tujuan kita berdua dan tak mengatakan apa-apa. 

Andai ada cara untuk mengembalikan laju waktu, kembali ke masa lalu… Aku ingin menyapamu tepat di saat kita pertama kali bertemu, mungkin aku akan mengomentari kacamatamu atau pura-pura menanyakan jam berapa sekarang. Mungkin semuanya akan berbeda: Jika saat itu terjadi, barangkali sekarang kita telah menjadi dua manusia yang berbeda. Mungkin aku akan bisa menawarkan bahuku, saat kamu kelihatan letih atau mengantuk, seperti tiga hari yang lalu. Mungkin aku akan mengajakmu bercerita, membahas lagu Queen, Too Much Love Will Kill You, saat kamu kelihatan begitu sedih beberapa bulan yang lalu. Mungkin aku bisa membawakan tasmu yang kelihatan terlalu berat, seperti hari ini.

***

Setelah ratusan pengemis yang kita santuni, ribuan lagu yang kita dengarkan di atas kereta, jutaan peristiwa yang kita saksikan bersama-sama, seharusnya aku sadar bahwa kemarin adalah hari terakhir kita bertemu. Mungkin aku tidak akan melihatmu lagi, atau aku akan melihatmu lagi. 

Tak seperti biasanya, kemarin kamu turun di stasiun Palmerah. Kamu berdiri beberapa saat di depan pintu kereta, menoleh ke arahku beberapa detik, dan kemudian pergi. Kamu terlihat sedih. Otakku bekerja ribuan kali lipat lebih cepat untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi padamu. Aku benar-benar ingin menghentikanmu atau paling tidak menanyaimu untuk pertama kali: Kenapa? Kamu mau kemana? Apa yang terjadi?

Tapi kamu terlanjur pergi, meninggalkanku dengan hati setengah runtuh di dalam gerbong kereta yang penuh. Kereta berjalan perlahan, mendenguskan beban di mesinnya yang beranjak tua. Aku berusaha melihatmu dari jendela kereta sementara kamu berdiri menatapku dengan tatapan yang kecewa. Aku ingin menghentikan laju kereta dan berlari ke arahmu, menebus kesalahanku sejak tiga tahun lalu, tapi aku tak bisa: Mungkin beberapa rasa cinta memang tak harus memiliki muaranya, seperti beberapa di antaranya ditakdirkan terlambat untuk diungkapkan… 

***

Aku menghela nafas panjang ketika turun di stasiun Tanah Abang. Aku baru saja menyadari bahwa aku baru saja mengetahui cara kelima menghentikan waktu: Melihat tubuhmu menjauh dari jarak pandangku.

***

Sebulan setelah hari itu, aku baru tahu bahwa aku benar-benar telah kehilanganmu. Betapa buruk moda transportasi kota ini tanpa kehadiranmu. Betapa lambat waktu berjalan. Betapa payah dunia bekerja. Tapi tidak apa-apa: Aku tetap bisa menjalaninya. 

Arina, aku tahu itu namamu, seperti tercetak jelas di setiap stiker yang selalu kau tempelkan di sampul buku-bukumu, aku berharap suatu saat kita akan bertemu lagi. Dan jika saat itu tiba, aku akan menghampirimu dan mulai menyapa: Apa kabar? Pekenalkan, namaku Indra. 

Tapi, Arina, mungkin aku tak akan mengungkapkan perasaanku padamu. Sebenarnya aku ingin, tapi kupikir itu tak perlu. Mungkin beberapa jenis cinta ditakdirkan untuk tak berakhir pada muaranya. Ia hanya perlu ada, begitu saja, tak meminta apa-apa lagi. 

Semoga suatu saat kita bertemu lagi. Di mana saja. Aku mencintaimu, Arina, tetapi aku lebih bahagia mengandaikanmu dari jauh—dengan semacam perasaan yang tak perlu penjelasan-penjelasan… 

***

Pagi ini aku berdiri di stasiun Rawa Buntu, masih tidak ada kamu di sini, kereta datang terlambat sepuluh menit dari biasanya…

… Tidak apa-apa.

Jakarta, September 2013

Lima Cara Untuk Menghentikan Waktu

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: