Skip to content

Tak Pernah Ada yang Tahu

September 26, 2014

kamukayakuya:

Saat ini aku berada di rumah sakit, seperti hari-hari sebelumnya. Bukan, bukan, aku bukan dokter, aku juga bukan suster. Aku hanya seorang pekerja paruh waktu, bukan juga sebagai juru farmasi. Aku hanya menjadi seorang petugas bersih-bersih kamar di sini.

Rumah sakit tempatku bekerja ini tidak sunyi dan hening seperti kebanyakan rumah sakit di dunia ini. Rumah sakitku ini ramai setiap harinya. Ada suara tertawa keras, jerit-jerit, sampai tangisan tengah malam di sini. Justru kalau sepi itu tanda tanya besar bagi kami semua petugas di sini. Ya, aku bekerja paruh waktu di rumah sakit jiwa, dan biar kuulangi, sebagai petugas bersih-bersih, bukan sebagai pasiennya.

Aku bekerja di sini mulai jam enam pagi, menyapu semua ruangan pasien, sampai jam setengah tujuh pagi, kemudian aku berangkat ke sekolah (yang dekat dengan rimah sakit ini), sekitar pukul dua siang, aku kembali ke sini, dan kembali menyapu ditambah merapikan seprai, kamar mandi, atau apapun yang bisa kulakukan. Kenapa? Kok mau-maunya aku bekerja di sini?

Oh bukan, aku bukan orang berjiwa sosial tinggi kok, sampai mau-maunya suka rela sambilan seperti ini. Aku bekerja sambilan di sini untuk mengumpulkan uang, untuk membeli iPod-ku yang hilang seminggu yang lalu. iPod itu baru saja dibelikan oleh orang tuaku sebagai hadiah ulang tahun, tapi naas, baru seminggu di tangan, benda pemutar musik itu sudah lenyap. Entah kenapa, aku mencurigai ada yang mencurinya—karena aku sering meninggalkannya di tas saat istirahat. tapi toh aku tidak mau berburuk sangka. Kalau berita kehilangan ini sampai ke telinga orang tuaku, mereka pasti sangat kecewa. Oleh karena itu, aku mesti mengumpulkan uang untuk membeli iPod baru yang sama persis, supaya mereka tidak mengetahui tentang berita ‘duka’ ini.

Karena pekerjaan ini agak ‘berat’, maka gaji paruh waktuku cukup lumayan, sebulan nonstop aku bekerja, dapatlah satu iPod yang hilang itu.

Kerjaanku sambil membersihkan tiap ruangan pasien adalah memperhatikan tingkah laku mereka yang katanya ‘gila’, ditemani MP3 player murahan untuk sementara. Asbun—asal bunyi, pokoknya asala aku tetap bisa mendengarkan musik. Aku tidak pernah mau menyebut mereka dengan kata itu sebetulnya. Karena tidak ada di dunia ini yang bisa mendefinisikan kata gila itu sendiri. Aku sendiri mungkin bisa gila kalau hidup tanpa musik. Gilanya seperti apa mungkin jedot-jedotin kepala ke tembok? Aku tidak tahu.

Dari beberapa pasien yang kutahu, ada Bu Irma yang selalu menimang-nimang bantal sambil menyenandungkan lagu nina bobo—katanya beliau kehilangan kesadarannya semenjak anaknya yang baru berumur sebulan meninggal saat tertidur. Ada juga Pak Rohim, yang stress karena ia jebol 2 milyar rupiah, karena sudah sogok sana sini, tapi tidak berhasil jadi Bupati kota manalah, akhirnya berakhir di sini karena tidak bisa menerima kenyataan—kebiasaan Pak Rohim ini bicara sendiri di depan jendela yang terbuka sambil berpidato kepada ‘warga’ kotanya, kasihan. Dan yang terakhir yang selalu kuingat, dan cukup kuperhatikan adalah Mila. Umurnya sebaya denganku, namun kasihan sekali ia sudah berada di sini sejak setahun yang lalu. Setiap kali aku menyapu kamarnya di pagi hari, ia selalu duduk di depan jendela melihat ke arah langit, sambil menyanyikan lagu “Fly Me to The Moon”, dengan nada yang pelan, dan kadang sambil tersenyum, terus menerus sampai jam makan pagi. Begitu pula saat aku kembali di siang harinya.

Fly me to the moon, and let me play among the stars.

Menurut Dokter Ardi, setiap kali ia menangis keras, atau berontak setelah pengobatan, ia akan tenang setiap kali mendengar lagu itu. Makanya, hanya kamar Mila yang ada CD Player-nya. Kalau ditanya kenapa bisa begitu, sang dokter pun tak bisa menjawab, “ia selalu begitu semenjak pertama kali ke sini,”.

Let me see what spring is like, on Jupiter and Mars.

Pagi itu aku terdiam di balik pintu kamar Mila, ia sudah bangun dan kubisa mendengarnya dari sini. Merdu, pelan, dan parau, seperti biasanya. Aku lalu menaruh sapuku di samping pintu, dan masuk ke kamarnya. Ia tersenyum ke arahku sambil terus menyanyi.

In other words, hold my hand.

Aku ikut menyenandungkan lagu itu (kebetulan aku hafal) sambil berjalan mendekatinya. Ia membelalakkan matanya, senyumnya semakin lebar, dan ia berdiri. Harus kuakui, senyum pasien yang satu ini begitu ‘normal’, aku nyaris lupa kalau ia adalah pasien di rumah sakit ini.

In other words, darling, kiss me.

Kami lalu tiba-tiba berdansa. Tiba-tiba aku tertawa, menertawakan diriku, menari dengan orang yang mereka sebut ‘gila’, pada pukul 06.12 pagi, di rumah sakit jiwa, sambil bernyanyi. Ia terlihat begitu menikmati hal ini, aku juga. aku lalu melepas earphone di telingaku supaya bisa dengan jelas mendengar suaranya.

Fill my heart with song, and let me sing forever more.

Ia berputar seperti seorang putri dengan pakaian pasien. Ia seorang putri saat itu, dan aku pangerannya—errrr, dengan seragam putih-abu-abu. Tidak apa-apalah, masih sepi saat itu, tak ada yang lihat.

You are all I long for, all I worship and adore.

Ia lalu melepas genggaman tanganku, berhenti berdansa. Ia bertepuk tangan dengan gembira. Kami lalu saling memberi salam, dengan membungkuk, seperti dua penghuni kerajaan di abad 18.

“Kenapa kamu suka lagu itu?” aku lalu bertanya. Entahlah, ia terlihat sangat waras saat itu. dan seperti tebakanku, ia hanya tersenyum. Membalik, dan kembali duduk di depan jendela sambil bersenandung.

In other words, please be true.

Keesokan harinya, aku tidak sempat ke rumah sakit karena ada ulangan Fisika—otomatis aku harus belajar kan?

Baru sehari setelahnya, aku ke rumah sakit lagi. Jam enam pagi, seperti biasanya, aku sudah bertengger di lorong rumah sakit sambil memegang sapu. Aku lalu langsung menuju ke kamar Mila. Namun aku kaget, kali ini tidak ada  lagi senandung dari dalam sana. Saat kubuka pintunya, ternyata kekhawatiranku benar, tak ada Mila di sana.

Aku mencari suster jaga di sekitar sana, yang ternyata hanya ada di ruangan penerima pasien. “Sus, pasien yang namanya Mila yang ada di kamar 12 itu kemana ya? Dipindahkan?”

“Mila?” Suster itu tiba-tiba berubah raut wajahnya, menjadi sedikit suram.

Aku menganga saat mendengar jawaban dari suster itu. Mila kabur dari kamarnya kemarin saat tengah malam tanpa sepengetahuan petugas rumah sakit dan—ya Tuhan—ia tertabrak mobil yang melaju kencang di seberang rumah sakit.

In other words, I love you.

Aku lalu berjalan dengan lemah ke arah kamar Mila, pemandangan kami menari bersama masih tertanam jelas diingatanku. Suaranya, senyumannya. Lagu itu pun masih terngiang-ngiang di telinga dan kepalaku. Kunyalakan CD Player yang ada di samping tempat tidur Mila, dan musik intro lagu kesukaannya mengalun.

Lagu itu, musik swing berlirik itu, pasti sangat berarti bagi Mila, pasti ada sesuatu yang indah terjadi saat itu. Tapi sampai sekarang, tidak pernah ada yang tahu ada makna apa dibaliknya. Bahkan aku sendiri, tidak tahu jawaban dari pertanyaanku dua hari yang lalu, sampai sekarang.

***

Tak Pernah Ada yang Tahu

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: